Sabtu, 16 Januari 2010

APENDISITIS

Pengertian
Apendiks disebut juga umbai cacing. Istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat awam adalah kurang tepat karena usus yang buntu sebenarnya adalah sekum.
Apendisitis adalah peradangan apendiks yang relatif sering dijumpai yang dapat timbul tanpa sebab yang jelas atau timbul setelah obstruksi apendiks oleh tinja, atau akibat terpuntirnya apendiks/pembuluh darah.

A. Anatomi fisiologi
 Anatomi
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung. Panjangnya kira-kira 10 cm (kisaran 3-15 cm) dan berpangkal di sekum, lumennya sempit dibagian proksimal dan melebar di bagian distal. Namun demikian, pada bayi apendiks berbentukkerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit ke arah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu. Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoncah kedudukan itu memmjgnkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnnya.
Pada kasus selebihnya, apendiks terletak retroperitoneal yaitu di belakang sekum, di belakang kolon asendens.
Persyaratan parasimpatis berasal dari cabang n. vogus yang mengikuti a. mesentrika superior dan a. Apendikularis, sedangkan persyaratan simpatis berasal dari n. Torakalis oleh karena itu, nyeri viseral pada apendisitis bermula disekitar umbilikus.
Pendarahan apendiks berasal dari a. Apendikularis yang merupakan arteri tanpa kaloteral. Jika arteri ini tersumbat misalnya jarena thrombosis pada infeksi, apendiks akan mengalami ganggren.
 Fisiologi
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari, lendir itu normalnya di curahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis.

B. Etiologi
 Sumbatan lumen apendiks
 Fekalit
 Tumor apendiks
 Erosi mukosa apendiks karena parasi seperti E. Histolytica
 Limfoid follicle
 Pin worm
 Cacing askaris dapat menyebabkan sumbatan
 Kebiasaan makan makanan yang rendah serat.

C. Patofisiologi
Apendisitis dapa dimulai di mukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Usaha pertahanan tubuh adalah membatasi proses radang dengan menutup apendiks denganomentum, usus halus atau adneksa sehingga terbentuk massa periapendikuler.
Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi tenang.
Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna,tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya, kelengkatan ini dapat menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah.

D. Tanda dan gejala
 Tanda awal : nyeri di epigastrium atau regiu umbilikus di sertai mual anoreksia.
 Nyeri pindah ke kanan bawah dan menunjukkan tanda rangsangan peritonium lokal di titik McBurney.
• Nyeri tekan
• Nyeri lepas
• Nyeri muskular
 Nyeri rangsangan peritonium tidak langsung
• Nyeri kanan bawah pada tekanan kiri
• Nyeri kanan bawah bila takanan di sebelah kiri dilepaskan
• Nyeri kanan bawah bila peritonium bergerak, seperti napas dalam berjalan, batuk, mengedan
 Demam.
 Nafu makan menurun.

Laboratorium
Pemeriksaan jumlah leukosit membantu menegakkan diagnosis apendisitis akut. Kebanyakan kasus terdapat leukosit, terlebih pada kasus dengan komplikasi.

E. Komplikasi
Dapat terjadi peritonitis apabila apendiks membengkak tersebut pecah.

F. Penatalaksanaan
1. Pengangkatan apendiks secara bedah/apendektomi
2. Apabila apendiks pecah sebelum tindakan operasi/bedah, maka diperlukan pemberian antibiotik untuk mengurangi resiko peritonitis dan sepsis.

ASUHAN KEPERAWATAN
PRE & POST APENDISITIS

1. PENGKAJIAN
a. Pengumpulan Data
 Identitas pasien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, pekerjaan, status dan lain-lain
 Riwayat penyakit sekarang
keluhan utama :
 Nyeri yang timbul mendadk di daerah epigastrium
 Demam
 Riwayat penyakit dahulu
Sebelumnya apakah pasien pernah mengalami pembedahan abdomen atau tumor.
 Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada penyakit keturunan dalam keluarga??
 Riwayat psikososial
 Pasien sering merasa cemas karena penyakitnya
 Pasien juga merasa takut karena ketidaktahuan pada penyebab penyakitnya
 Pola-pola fungsi kesehatan
Mengkaji pola fungsi kesehatan terutama yang berhubungan dengan penyakit yang di derita oleh pasien tersebut.
a) Pola nutrisi
Kaji pola makanan pasien dirumah serta jenis dan jumlahnya, kaji pula kemungkinan terjdinya mual dan muntah.
b) Pola eliminasi
o Terjadinya perubahan defekasi, adanya darah pada feses
o Konstipasi
c) Pola persepsi dan tatalaksana kesehatan
Mengkaji bagaimana pasien mempersepsikan penyakitnya dan bagaimana tatlakasan kesehatan di rumahnya. Dan kebiasaan pasien misalnya minum alkohol, obat-abatan dan kebiasaan merokok.
d) Pola aktifitas dan latihan
e) Pola tidur dan istirahat
Kaji berapa lama pasien beristirahat dan jika ada waktu yang luang apa yang dilakukan pasien.
Kaji pula apakah pasien mengalami gangguan saat tidur yang berhubungan dengan penyakitnya.

b. Pemeriksaan
Demam biasanya ringan dengan suhu sekitar 37,5-38,50C, bila suhu lebih tinggi mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan suhu aksila dan rektal sampai 10C, pada infesi perut tidak di temukan gambaran spesifik, kembung sering terlihay pada penderita dengan komplikasi perforasi penonjolan perut kanan bawah atau abses periapendikuler.
Pada palpasi di dapatkan nyeri yang terbatas pada ragio iliaka kanan, bisa disertai nyeri lepas. Nyeri tekan perut kanan bawah perut ini merupakan kunci diagnosis, pada penekanan kiri bawah akan dirasakan nyeri di perut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing.
Pemeriksaan Laboratorium
 Darah lengkap
 Kadar elektrolit darah
 Urine lengkap
 Pemeriksaan radiology

c. Analisa Data
 Pre operasi
 Data subjektif biasanya didapatkan dengan keluhan nyeri dan sakit sekali pada perut, perut kembung, muntah, sulit untuk BAB, perasaan takut, hawatir, dan lain-lain.
 Data objektif dapat terlihat pasien meringis menahan sakit kadang menarik napas panjang, wajah pucat, kebersihan badan tak terurusi dan lain-lain.
 Post operasi
 Data subjektif didapatkan keluhan pusing, sakit kepala pada luka operasi (nyeri) dan lain-lain.
 Data objektif, pasien dalam keadaan terbaring, terpasang infus, dan lain-lain.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Dari masalah yang ada maka kita dapatkan masalah diagnosa keperawatan sebagai berikut :

 Diagnosa Pre Operasi
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) abdomen yang timbul mendadak di daerah epigastrium.
2. Cemas sehubungan dengan akan dilakukan tindakan pembedahan di tandai dengan pasien sring menanyakan tentang bagaimana tindakan operasi dilakukan.

 Diagnosa post operasi
1. Ketidaknyamanan (nyeri) sehubungan dengan luka operasi di tandai dengan pasien sering menarik napas panjang menahan nyeri.
2. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan luka operasi.

3. PERENCANAAN
Perencanaan berisi tujuan pelayanan perawatan dari rencana tindakan yang digunakan untuk mencapai tujuan, kriteria hasil dari tujuan serta rasionalisasi dari rencana tindakan.
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) abdomen yang timbul mendadak di daerah epigastrium.
a. Tujuan rasa nyeri berkurang atau hilang
b. Kriteria hasil :
 Penderita mengungkapkan rasa nyeri berkurang.
 Ekspresi wajah tidak menyeringai.
 Pasien dapat tidur dan istrahat dengan tenang.

c. Rencana tindakan :
I. Beri penjelasan pada pasien dan keluarga tentang sebab-sebab nyeri.
Rasional :
Dari penjelasan yang di berikan, diharapkan pasien tahu sebab-sebab nyeri sehingga dapat di ajak kerja sama.
II. Alihkan perhatian pasien dengan membaca koran, majalah dan mendengarkan radio dan lain-lain.
Rasional :
Dengan mengalihkan perhatian pasien, diharapkan rasa nyeri hilang / terlupa sejenak.
III. Ajak pasien bercerita tentang sesuatu hal yang menyenangkan.
Rasional :
Dengan mengajak bercerita yang menyenangkan akan membuat pasien tidak menyadari rangsangan nyeri.
IV. Observasi gejala cardinal
Rasional :
Observasi gejala cardinal untuk mengetahui perkembangan pasien dan membuat pasien merasa di perhatikan.

2. Potensial terjadi infeksi sehubungan dengan luka operasi :
a. Tujuan : tidak terjasi infeksi
b. Kriteria hasil :
 Luka kering dan bersih
 Tidak terdapat tanda keradangan
c. Rencana Tindakan
1. Beri penjelasan pada penderita tentang manfaat perawatan luka dan tanda serat dangejala infeksi
Rasional :
Dari penjelasan yang diberikan diharapkan pasien dapat di ajak kerja sama dalam mencegah terjadinya infeksi
2. Observasi keadaan luka operasi dan drainase insisi
Rasional :
Dengan Observasi di ketahui kelainan-kelainan yang terjadi pada drainasi insisi dan keadaan luka.
3. Kaji proses penyembuhan
Rasional :
Dengan Observasi penyembuhan maka keadaan luka diketahui pasien dan tanda-tanda keradangan dapat di antisipasi.
4. kolaborasi dengan Dokter dalam pemberian anti Biotik
Rasional :
Anti Biotik mempunyai efek membunuh serta mengurangi perkembanganbiakan kuman penyakit.

4. PELAKSANAAN
Pelaksanaan yang di maksud adalah realisasi dari kegiatan yang dilakukan.

5. EVALUASI
a) Tujuan tercapai, bila pasien mampu menunjukan prilaku pada waktu yang telah ditentukan sesuai dengan pernyataan tujuan yang ditentukan.
b) Tujuan sebagaian tercapai, bila pasien mampu menunjukan prilaku, tetapi hanya sebagian dari tujuan yang di harapkan tercapai.
c) Tujuan tidak tecapai, bila pasien tidak mampu atau menunjukan prilaku yang diharapkan sesuai tujuan yang telah ditentukan.

1 komentar:

Obat Tradisional Usus Buntu mengatakan...

Untuk terhindar dari penyakit, biasakan pola hidup sehat. Terimakasih untuk informasinya.

Poskan Komentar